Perkuat Integritas dan Spiritual Aparatur, PA Banjarnegara Ikuti Majelis Pembinaan Mental PTA Semarang

By | 12 October, 2026

Banjarnegara, 12 Oktober 2026 — Ketua, Wakil Ketua, dan aparatur Pengadilan Agama Banjarnegara mengikuti kegiatan Majelis Pembinaan Mental (BINTAL) yang diselenggarakan oleh Pengadilan Tinggi Agama Semarang pada Senin (12/10/2026). Kegiatan diikuti secara daring dari Media Center Pengadilan Agama Banjarnegara, sementara kegiatan utama berlangsung di Aula Pengadilan Tinggi Agama Semarang mulai pukul 08.30 WIB.

Majelis Pembinaan Mental menjadi salah satu sarana pembinaan rohani sekaligus penguatan karakter bagi keluarga besar peradilan agama di wilayah Pengadilan Tinggi Agama Semarang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk menambah wawasan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai aparatur peradilan.

Pada kesempatan tersebut, pembinaan disampaikan oleh Dr. Drs. Ayep Saepul Miftah, S.H., M.H., Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang. Kehadiran beliau sebagai pemateri memberikan penguatan kepada seluruh peserta mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara profesionalisme dalam bekerja dengan pembinaan mental dan spiritual.

Kegiatan dipandu oleh Zainal Abidin, S.Ag., M.H., Panitera Pengganti PTA Semarang sebagai pembawa acara. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pembacaan Asmaul Husna yang dipimpin oleh Ade Husnul Khotimah Hasan, S.E., Analis PK APBN Ahli Muda.

Melalui pembinaan mental, seluruh peserta diajak untuk terus memperkuat nilai-nilai integritas, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, serta keikhlasan dalam menjalankan amanah. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi aparatur peradilan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat pencari keadilan.

Bagi aparatur Pengadilan Agama Banjarnegara, kegiatan pembinaan mental memiliki relevansi erat dengan pelaksanaan tugas sehari-hari. Pekerjaan di lingkungan peradilan tidak hanya menuntut kompetensi dan ketelitian, tetapi juga membutuhkan karakter yang kuat serta kesadaran moral dalam setiap pengambilan keputusan dan pelayanan.

Penguatan spiritual juga menjadi salah satu cara untuk menjaga semangat kerja di tengah berbagai dinamika tugas. Rutinitas pelayanan, administrasi, dan penyelesaian perkara membutuhkan kondisi mental yang baik agar setiap aparatur mampu menjalankan tanggung jawabnya secara profesional dan tetap berpegang pada nilai-nilai etika.